Kata galau sepertinya tidak akan pegi dari hidup ini. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur tidak serta merta mengusir 'galau' dari kehidupan. Ia selalu ada dan terus datang. Waktu umur 6 tahun kita galau tentang bagaimana bisa mendapat ranking satu atau punya banyak teman. Saat usia 12 tahun mulai cinta monyet dan galau karena ujian sekolah. Usia 14 galau menentukan mimpi-mimpi. Usia 18 galau soal percintaan, saking banyaknya kegiatan sekolah, jurusan kuliah atau lanjut kerja saja. Usia 20 galau tentang tugas akhir, cinta, persahabatan, ujian, meniti karir. Usia 23 galau susah dapat pekerjaan. Usia 25 galau kapan nikah. Wah panjang... dan banyak lagi galau-galau yang dirasakan. Jelas mengganggu sekali. Rasanya bak ketiban beban berat yang untuk diangkat saja tak sanggup. Enggan melakukan apapun, berdiam diri atau menangis saja. Tidak bergairah, bingung berkepanjangan. Mengantuk tapi tidak bisa tidur, jika tertidur hati tak tenang. Ada bahkan sering sek...
oke di pagi yang lumayan cerah ini ada sedikit pemikiran konspiratif yang tiba-tiba begeliat dalam otakku. dan aku ga akan membuat tulisan ini jadi menyenangkan untuk dibaca ataiu apapun itu Mungkin kita pernah merasa tak ada penerimaan atau respon yang menyenagkan dari alam. Seperti terisolasi dari keadaan. Dari buku yang pernah aku baca, yaa kadang kita harus membikin sesuatu yang gila agar orang- orang mengakui eksistensi kita. Apakah ini sebuah perasaan objektif atau pemikiran subjektif, terisoalasi keadaan atau mengisolasi diri dari keadaan, sehingga tekesan kita ga eksis atau bisa dibilang kita ga diakui alam. Hmm oke aku sedang mengalaminya. sebenrenya ini yaa cukup menyedihkan, ketika sepertinya aku ga tau apa-apa tentang dunia, yaa duniaku dimana aku harus tetap berinteraksi dan yang aku bingungkan adalh apakah aku membuat diriku sendiri tak mengetahuinya atau memang tak ada yang brsedia memberi tau. Aku egois atau aku menyedihkan. Aku berusaha peduli tapi tetap tertinggal i...
Rasanya sakit. Rasanya hati remuk. Ga sanggup, ga kuat. Mau nangis, tapi malu kalau ketahuan. Melihat orang-orang yg rajin bekerja banting tulang, panas-panasan, berkeringat, penampilan seadanya. Pakai baju yang warnanya udah pudar, sepatu usang, jaket lusuh. Banyak banget diluar sana, di indonesia. Tapi diantara mereka yang keras bekerja, ada yang suka berpuasa, entah senin kamis, atau puasa daud atau puasa tengah bulan atau puasa sunnah lainnya yang rutin dilakukan. Makan atau buka puasa yang sederhana, biasanya nasi bungkus atau air mineral gelas. Tau begitu, bikin hati ini tambah sakit aja. Aku ga membanding-bandingkan, tapi kalau dilihat, warna bajuku belum pudar, sepatu juga tidak usang, jaket tidak lusuh dan makanan sederhana lebih sedikit. Ada lagi yang membuatku gakuat. Beberapa dari mereka, baik sikap dan hatinya, ramah, rajin sholatnya. Dan yang membuat tambah tidak sanggup adalah bahwa aku tidak bisa berbuat apapun untuknya. Aku cuma bisa melihatnya saja dan berdoa untuknya...
Komentar
Posting Komentar