sore hari ketika langit gelap dan mulai hujan, terbesit sebuah kata yang sebenarnya mendominasi kehidupan. entah kenapa ia ingin menampakan diri lewat maha karya seorang amatiran seperti aku ini. cukuplah untuk berimajinasi. mengingatnya begitu terkuras saat ini. aku pikir cukup menghibur. ia akan baik-baik saja, tetap terjaga oleh yang perkasa. melindunginya jangan sampai terkoyak atau hanya tinggal separuh saja. lebih dari sekedar jiwa tapi ia kehidupan, menjadikan diri kita yang sebenarnya.
Di Sudut Kegelapan
"Kamu cantik luar biasa. Berdiri setegak Gunung Himalaya, teduh seluas pohon taebuya. Kau adala h berlian. Meski banyak orang mencaci, berbagai suara menjatuhi, dan bisik-bisik yang menyalahi. Kau indah dan bercahaya. Tenang dan tidak goyah." Suara itu bergema di seluruh ruangan gelap. Aku hampir terjatuh mendengarnya. Mendengar cermin itu berbicara ketika bola mataku menghadapnya. Saat itu pantulannya memang tetap diriku apa adanya. Lama-kelamaan berubah visi menjadi sosokku yang lain. Mengenakan pakaian bak putri raja yang ikut berperang. Aku yakin sekali, cermin itu yang bersuara. Aku tidak mempertanyakan keanehan ini, justru lebih mencerna kata-kata barusan. Apakah aku benar-benar orang yang mampu berdiri kokoh meski dijejali berbagai rintangan? Apakah aku bisa meneduhkan diri sendiri bahkan orang lain di sekitar? Apakah aku berlian? Brak Ada yang terjatuh di balik kaca bulat usang itu. Langkahku dengan ragu menuju sumber suara. Ternyata ada sebuah papan kayu dengan ukir...

yakin nih tulisan? haha
BalasHapustulisan dul hehe tapi kalo diedit gini emang jadi beda sih --v
BalasHapus